CINTA (SAAT BELUM MENIKAH) BUKAN
SEGALA-GALANYA, DIA BISA DATANG DAN PERGI BEGITU SAJA (saya tau kalimat ini
pasti tidak disukai oleh banyak orang, khususnya para idealis cinta, tapi
itulah realita). Cinta itu, seperti kata pepatah Jawa, timbul hanya karena
faktor kebersamaan yang sering. Itu sebabnya Dewa bilang dalam salah satu lirik
lagunya, "Beri aku sedikit waktu, biar cinta datang karena telah
terbiasa." So, UNSUR TERPENTING PEMBENTUKAN CINTA ADALAH UNSUR
"SELALU BERSAMA", itu saja, gak lebih. (Kalau loe deket ama seorang
cewek cuma temenan biasa asalnya, kemudian akrab bener, jangan heran kalau
kemudian bisa jatuh cinta, itu karena unsur kebersmaan tadi).
Logikanya, KETIKA KEBERSAMAAN ITU
HILANG, MAKA HILANGLAH CINTA ITU. Jangan heran jika kita sering menganggap aneh
dan gak realistis orang-orang yang selalu mengenang berat kekasih masa lalu
kalau hanya untuk dikenang begitu saja dan hanya untuk bahan perbandingan
(kecuali kalau mengenangnya cuma buat hiburan aja, itu sih gak bikin rusak).
Jangan heran juga kalau orang yang pacaran long distance banyak yang putus.
Menghilangkan cinta dengan cara
menghilangkan kebersamaan, jika itu dilakukan tentunya bukan suatu hal yang
mudah. iya khan? Yup, itu benar, ketika anda memutuskan untuk menjauhi sang kekasih,
itu memang suatu keputusan yang berat, bahkan tidak berlebihan kalau dibilang
itu bisa bikin anda cengeng dan serasa dunia ini hampa (kayak roman picisan).
Namun percaya atau tidak, itu satu-satunya proses terapi mujarab hingga saat
ini.
Kembali ke masalah ortu. Kita dihadapkan pada dua pilihan sekarang,
antara MENURUTI KEINGINAN ORANG TUA UNTUK MEMBONGKAR CINTA KITA dan antara
MEMASANG CINTA PADA KEKASIH KITA. Dilema bukan? Kayak si buah Simalakama,
duanya-duanya pilihan yang berat.
Ada satu pernyataan dari seorang
bijak ketika menasehati anak didiknya, Si bijak bilang, "PATUTKAH KAMU
MENYAKITI HATI ORANG TUA YANG TELAH BERPULUH-PULUH TAHUN MENDIDIK, MENGASUH,
dan MEMBIMBINGMU.
Ketika kamu kecil mereka nyebokin
kamu kalau buang air, mandiin, menggendong kamu dalam pelukannya selama dua
tahun lebih dengan kasih sayang tanpa imbalan? Kemudian semua jasa itu kamu
lupakan begitu saja dan kamu balas dengan sebuah protes yang menyakitkan hati
mereka? Dan itu kamu lakukan hanya karena seseorang yang baru kamu kenal dalam
hitungan satu atau dua tahun? Haruskah kasih sayang berpuluh-puluh tahun itu
dimusnahkan untuk kasih sayang katakan, dua tahun!?
Sebuah pertanyaan yang betul-betul
dalam dan jelas maknanya jika diterima dengan jiwa yang bersih.
Si bijak kemudian
melanjutkan," Nak, kamu masih mau comparing antara cinta si Dia dengan
kamu dan cinta orang tua terhadap kamu? Sungguh, tidak balance, ada yang berat
sebelah! Jauh dan sangat jauh. Cinta dia kepada kamu, sedikit banyak
bertendensi, saya tidak bisa pastikan bertendensi apa, namun cinta mereka
(orang tua) terhadapmu, sungguh, saya berani pastikan adalah tanpa tendensi
apapun! BAGI ORANG TUA, KEBAHAGIAAN KAMU DI MASA DEWASA SAJA SUDAH CUKUP
SEBAGAI KEBANGGAAN DAN KEBERHASILAN ATAS USAHA CINTANYA SELAMA INI UNTUK KAMU.
SEDERHANA DAN TANPA TENDENSI!"
"Satu lagi yang mesti kamu
pikirkan, dan ini sangat besar artinya untuk ketenangan jiwa kamu, yaitu,
ADAKAH KAMU RELA ORANG TUAMU MENINGGAL DUNIA NANTI SEMENTARA DALAM HATINYA
MASIH MENYIMPAN PERASAAN SAKIT SAMA KAMU? ADAKAH KAMU RELA MEREKA
MENINGGALKANMU UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA TANPA SENYUM SAMA KAMU?"
"KECINTAAN DAN KEPATUHAN
KEPADA ORANG TUA ADALAH KECINTAAN DAN KEPATUHAN TOTAL TANPA SYARAT, KECUALI
SATU, KETIKA MEREKA MENGAJAKMU BERBUAT TIDAK BAIK, ITU SAJA! DI LUAR ITU,
ADALAH KEPATUHAN TOTAL."
?DAN JIKA KEDUANYA MEMAKSAMU UNTUK
MEMPERSEKUTUKAN-KU DENGAN SESUATU YANG TIDAK ADA PENGETAHUANMU TENTANG ITU,
MAKA JANGANLAH KAMU MENGIKUTI KEDUANYA DAN PERGAULILAH KEDUANYA DI DUNIA DENGAN
BAIK" [Luqman:15]. Jadi, kalau ortu ngajak ke arah kemusyrikan maka tidak
wajib kita mentaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul
dengan baik selama di dunia. Sikap santun harus senantiasa dijaga.
"Aku bisa mengerti, jiwamu
sedang bergejolak, sakit menerima kenyataan, bahkan gak menutup kemungkinan
kasus-kasus cinta kayak gini bisa bikin orang bunuh diri. Namun inilah dunia
dengan permasalahannya, tidak semuanya happy ending, KADANG SEBUAH KEPUTUSAN
PAHIT HARUS DIAMBIL UNTUK MENGHINDARI AKIBAT KEPUTUSAN YANG LEBIH PAHIT.
Tidak semua masalah mempunyai
solusi happy kayak film-film India, contohnya adalah masalahmu ini. Di sini
tidak ada solusi, yang ada cuma opsi, antara tetap meneruskan cintamu ama si
dia dan antara kepatuhan terhadap keinginan orang tua."
Kamu mungkin bilang, "Guru,
anda begitu mudah menasehati saya, Anda tidak merasakan sedikitpun apa yang
sedang saya rasakan." Saya akan jawab, seorang yang bijak adalah seseorang
yang bisa mengatur derap emosi jiwa dengan logika, begitu kira-kira yang saya
pahami selama saya hidup. Saya menghargai cinta kamu, dan itu merupakan bukti
bahwa kamu adalah manusia yang romatik dan penuh cinta, namun permasalahannya
di sini adalah, kamu berhadapan dengan cinta lain yang lebih tulus meskipun
bagi kamu (sementara ini) cinta tulus orang tua itu bukan cinta tetapi suatu
tekanan yang menyakitkan."
"KASIH ORANG TUA KEPADA
ANAKNYA TAK AKAN HABIS, NAMUN ITU BUKAN ALASAN BUAT KAMU UNTUK MENYAKITINYA,
PAHAMI ITU SEBAGAI CINTA DAN KASIH YANG ABADI."
Si anak didik memotong,
"Kebanyakannya, orang tua bisa menerima kita setelah kita punya anak, itu
khan artinya nanti bisa kembali damai kalau saya tetap meneruskan keinginan
mengawini kekasih saya."
Sang Guru menjawab, " Ya, ada
beberapa yang seperti itu, namun, jika itu mungkin bisa terjadi kepada kamu
juga. Tetapi JIKA ITU TETAP KAMU LAKUKAN, KAMU TELAH MENINGGALKAN SEDIKIT NODA
DALAM JIWA MEREKA DAN ITU SUDAH CUKUP SEBAGAI NILAI MINUS KAMU DI JIWA MEREKA.
Itu pun kalau mereka kemudia memaafkanmu setelah mereka melihat cucu.
Permasalahannya, apakah kamu yakin bahwa mereka suatu saat nanti mereka dapat
memaafkan? jika ternyata tidak hingga akhir hayat mereka, kamu akan dihantui
dengan perasaan tidak tenang dan rasa bersalah di saat mereka tidak ada lagi.
Sungguh Nak."
"Sekali lagi, CINTA KAMU
DENGAN DIA SEBELUM PERNIKAHAN, BUKAN SEGALANYA, SEKALI LAGI BUKAN SEGALANYA.
CINTA SEMACAM INI MASIH BISA DATANG DAN PERGI, BERBEDA DENGAN KASIH DAN CINTA
PASCA PERNIKAHAN, tidak begitu mudah untuk create cinta baru yang lain, karena
ia sudah dilandasi dengan aspal baru, yaitu aspal TANGGUNGJAWAB DAN KOMITMEN,
karena pernikahan adalah suatu perjanjian bernilai sakral abstrak yang harus
diperjuangkan, meskipun dengan nyawa. KEHIDUPAN CINTA PASCA PERNIKAHAN ADALAH
KOMITMEN PRIBADI DUA ANAK MANUSIA UNTUK TETAP MENJAGA SEBISA MUNGKIN AGAR TIDAK
RETAK, MESKIPUN ITU HARUS DENGAN MENJUAL IDEALISME HARIAN. Sangat berbeda
dengan kehidupan cinta sebelum pernikahan, sangat berbeda, yang kayak gini tuh
masih bisa dibongkar pasang, masih bisa di-adjust sono-sini, itu realita. Saya
tidak katakan cintamu sama dia tidak harus diperjuangkan sama sekali. Yang saya
ingin katakan di sini adalah, cintamu dengan seseorang sebelum pernikahan
adalah masih bernilai fifty-fifty untuk dipertahankan, ini artinya kamu bisa
saja mempertahankan cinta itu, memperjuangkannya, cuma, menurut saya,
proporsional dong. Artinya ketika dihadapkan kepada memilih antara dia dan
kepatuhan terhadap orang tua, maka di sinilah kamu harus hitung menghitung
kayak orang dagang! Yah, semacam usaha untuk lebih relistis."
Si murid mulai ragu dan bertanya,
"Jika saya mengikuti orang tua, apakah ini berarti saya pengecut dan tidak
berani dalam mengambil keputusan untuk menikahinya, tidak berani dalam
memperjuangkan Cinta?" Sang guru:
"Anakku, cobalah belajar untuk membedakan antara pemberani dengan si
konyol!"
Sang Murid, "Lalu apa yang
harus saya katakan kepada si Dia?"
Guru, "Berbicaralah apa adanya, bahwa kamu telah berusaha untuk
meyakinkan orang tua namun tidak berhasil, dia tentu akan sedih bercampur
dengan marah, itu pasti, namun kamu perlu jelaskan juga, bahwa dia tidak sedih
dan marah sendiri. Tidak ada orang yang ingin kebahagiaannya rusak dan hancur.
Namun tidak berarti juga realita hidup selalu happy ending kayak film India."
Rasulullah shallallahu ?alaihi
wasallam bersabda, ?BARANGSIAPA MEMBUAT HATI ORANG TUA SEDIH, BERARTI DIA TELAH
DURHAKA KEPADANYA." [Riwayat Bukhari]. Dalam kesempatan lain Rasulullah
bersabda, ?TERMASUK PERBUATAN DURHAKA SESEORANG YANG MEMBELALAKKAN MATANYA KARENA
MARAH. [Riwayat Thabrani].
Semoga Allah menjadikan kita
sebagai anak-anak yang dapat MEMPERSEMBAHKAN CINTA, SAYANG, HORMAT DAN BAKTI
KITA KEPADA KEDUANYA, HANYA UNTUK SATU TUJUAN: MERAIH CINTA, AMPUNAN, PAHALA
DAN RIDHA-NYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar